Skip to main content

Dua Perempuan Dibangku Taman



     Perempuan manis itu bercerita, aku mendengar. Dia saat ini mengalami kegundahan, tentang datangnya seorang lelaki dan ke-belum sembuhan hatinya pada sosok yang lalu. Perempuan manis itu menyandarkan kepalanya padaku, dia berkata “aku belum siap, hatiku juga belum siap”. Aku hanya tersenyum sambil menggenggam erat tangannya. “kau tahu, kau tak perlu merasa siap jika memang belum siap, tata saja hati kecilmu itu perlahan, sambil mengharap yang terbaik dari Tuhan”.

     Perempuan manis itu menceritakan panjang lebar tentang sosok lelaki yang berhasil membuatnya gundah namun tidak goyah. Dibangku taman yang berteman dengan kesunyian, kami membincangkan banyak hal. Dari banyaknya kisah yang terlontar, lagi-lagi dia menyebutkan “aku belum siap menikah”, kubilang “tidak apa-apa”.  Lalu dia merasa seperti dipermainkan, padahal lelaki mana yang mungkin sanggup mempermainkan perempuan semanis dirinya. Dia hanya bilang “engga suka sama laki-laki yang cuma mengungkapkan tapi engga member kepastian” kubilang “sama”. Dia bercerita lagi sambil mengayun-ngayunkan tangan dan kepalanya seolah memperagakan gerakan orang lain dalam ceritanya.

     Kini dia menepuk bahunya sendiri, seolah mengatakan “sini, gentian senderan dipundakku”. Aku tertawa, diapun juga dan tawanya membuat wajahnya semakin manis. Kemudian seperti menuruti perintahnya, aku sandarkan kepalaku pada bahunya. Seketika, seorang lelaki berkacamata lewat didepan kami. Perempuan itu berkata sambil menyenggol sikutku “hey, dia tipemu tuh”, kubilang “bisa jadi”. Aku hanya melihat bekas jalan yang dilalui lelaki barusan tanpa melihat siapa yang bejalan. Seketika perempuan disampingku mendadak berdiri dan menggoyahkan badanku yang sedang bersandar padanya. Dia mengambil sebuah uang lembar lima puluh ribu rupiah yang letaknya sedikit jauh melewati kursi yang sedang kami singgahi. Perempuan itu kemudian berlari dan sedikit meneriaki seseorang yang tampaknya sudah cukup jauh. Aku hanya memperhatikan tingkah perempuan manis itu dari kejauhan. Tiba-tiba sosok dikejauhan itu menoleh…… (tbc)



`Hilyah Nafisah


Comments

POPULAR POST

Surat Cinta Untukmu Ukhti ...

HIJAB YANG SYAR’I?? RIBET?!

HANYA BERSAJAK

SEMBURAT ISI HATIKU, BU...