Skip to main content

PENGORBANAN




Dari setiap gores telapak kaki yang kau pijak
Pernahkah kau sekedar berucap tentang pengorbanan?
Tentang sebuah masa yang fana
Tentang waktu yang terlihat panjang namun nyatanya hanya sejenjang

Cobalah berjalan sejenak diatas awan
Jika kau tak mampu, cukup berjalan dibawahnya
Sambil terus menatap keawan
Berharap kelak akan sampai pada atasnya

Ironi setiap kali kita merasa terabaikan
Padahal tidak, ada yang setia menemani disisi
Jika teman hanya tempat  berkawan, berkisah, barbagi tawa suka duka biasa
Maka ada yang diam-diam menyaksikan, memapah dan menjadi sandaran setiap peristiwa
Jika wajahmu saja kau rawat sedemikian rupa
Mengapa tak kau jaga, kau rawat Dia yang memberikanmu wajah ?

Sudahkah kita melalui pengorbanan teramat payah ?
Hingga kau tak sanggup lagi berjalan
Menanggalkan segala yang kau punya, hingga tersisa baju dibadan ?
Atau sudahkah kita melakukan pengorbanan, hingga lutut bergetar dan kaki bengkak tak kuat menahan ?
Atau sudahkah kita melakukan berkorban hingga semua orang meludahi, bahkan menghujam kita dengan besi, panah dan peluru ?
Ataukah kamu sudah berjuang
Hingga darah dan nanah menjadi saksi sejarah ?

Gemerlap semesta terkadang hadir memang mebuat kita nyaman hingga pulas keperaduan
Padahal kau tahu, tak ada peraduan yang nikmat selain dari tempat disisiNya kelak
Layaknya mama yang sejak kecil meninabobokan kau hingga pulas dipangkuannya

Kau sering mengagumi suara dari alat pengecap yang kau punya
Menjadikannya alat bagimu membagi suka dan bahagia pada sesama
Tapi hati-hati, karena bangga bisa membuat masnusia lupa
Dan mungkin Ia tak butuh itu
Karena kau menjadi tak ingat pada perkataanNya
Menjauhi, mengabaikan, hingga titik melupakan
Sungguh, jika kau memiliki seorang Ibu, namun Ibumulebih memilih anak lain daripadamu karena tak pernah menuruti kata-katanya, apa yang akan kau lakukan?
Padahal kau tahu, kau tak bisa berbuat apa-apa tanpa Ibu disisimu
Seperti itulah mungkin, perasaan Dia yang lagi-lagi telah mencipta segala kebaikan

Menyebrangi masa, melewati pintu dari hari ke hari
Labuhan cinta kini sudah mengakar jadi
Hmm.. hati hati
Jika kau salah menurunkan jangkar
Jangan dulu merapat dan menelusuri
Pantaulah dulu lewat lensa hidupmu
Jika kau ambil, apakah bisa membuat hidupmu menjadi was was pada semesta atau justru kau nikmat dengannya
Kalau lupa, aku khawatir.. kau tak punya cukup bahan bakar untuk kembali
Sedangkan aku, takut tak sanggup lensaku menangkapmu

Jika kau mulai jatuh, maka bicaralah pada hati
Jatuhlah hingga kau merasa butuh
Jatuhlah yang jangan sampai membuatmu jauh
Karena jika ku berbisik saja pada hatimu
Kau akan terkejut, karena ada yang berbicara disana
Memberikan jawaban dan membuatmu heran hingga lega
Ialah nurani, yang berbicara tentang kisah bahwa dirimu seorang Hamba


 Depok, 24 Nov 2015
`Hilyah Nafisah

Comments

POPULAR POST

Surat Cinta Untukmu Ukhti ...

HIJAB YANG SYAR’I?? RIBET?!

HANYA BERSAJAK

SEMBURAT ISI HATIKU, BU...

Dua Perempuan Dibangku Taman