Skip to main content

APALAH INI AMANAH !



        Jika hanya membaca judul sekilas, kau pasti tahu apa yang kumaksud dan kau pasti tahu perasaan yang sedang dirasa orang yang menulis tulisan itu. Ya, keengganan untuk menerima amanah. Ketidakmauan dan kekesalan akan amanah yang dimilikinya.

          Beberapa waktu lalu, sebuah pengumuman kepanitiaan hadir dari kampus mungilku, tepatnya di bangunan tak berdinding namun selalu menjadi persinggahan para pengrajin rapat yaitu gazebo. Disana beberapa orang hadir, sekitar kurang lebih 40 kepala calon kepantiaan baru dan beberapa kepala kurang lebih 5 menemani mereka, para calon panitia baru yang hadir dengan wajah polos tanpa beban sebelumnya.

      Sebelum kabar buruk itu diumumkan, sebelumnya aku telah menjadi panitia tetap bersama belasan teman lainnya yang sekarang juga duduk bersama di gazebo untuk menanti kabar mereka masing-masing. Hanya saja, dikepanitiaan sebelumnya, kami adalah para creator/perumus/perancang dari segala aspek terkait dengan even yang akan dibuat panitia resminya ini. Sebelum kami hadir di gazebo ini, kami telah banyak melalui pusingnya berfikir, mampetnya otak tak bisa lagi mikir hingga hal-hal pahit lainnya. Meski tidak semuanya pahit, banyak pula hal-hal manis dan warna baru yang kami dapati. Yang sebelumnya kami tak saling kenal, hingga bisa tertawa lepas setiap rapat dilakukan untuk membahas suatu hal. Jumlah kami kurang lebih 15 orang. Para pembuat tim menyebut kami “Tim Kreatif”. Tim yang dibentuk lebih dahulu untuk merancang dan mengonsep, sebelum dibuat kepantiaan seutuhnya seperti yang akan terjadi sekarang. Bedanya kami dengan teman-teman baru yang akan bergabung adalah, kami lebih dahulu dibentuk dan lebih dahulu tahu seluk beluk rangkaian kegiatan pada even yang akan dibentuk itu. Samanya kami dengan mereka yaitu, kami sama-sama tidak tahu divisi apa yang akan kami tempatkan (kecuali BPH), karen sebelumnya kami hanya tim kreatif, tanpa divisi pasti. Inilah yang menjadi salah satu kekesalan dan kewas-wasan diri kami masing-masing. Atau cuma diriku? Entahlah.

           Mungkin even kami bisa dibilang belum terlalu tenar seperti even tahunannya Gelar Jepang UI, atau Festival bulan bahasanya UGM. Karena even kami hanyalah even yang diketahui oleh segelintir mereka yang menggeluti ekonomi, khususnya ekonomi syariah. Meski kampus kami kecil, tapi aku berani jamin kalau kampusku tak kalah hebatnya dengan UI, ITB ataupun IPB. Hanya saja, hal itu berlaku seperti yang kubilang tadi, hanya pada segelintiran para ekonom.

Ya! Kampusku, kampus mungil di hampir perbatasan Depok-Bogor adalah kampus yang berfokus pada ekonomi berbasis syariah. Namanya mungkin asing ditelinga banyak orang, tapi pastilah tak asing ditelinga mereka yang menggeluti ekonomi. STEI SEBI, nama kampus yang berhasil berapa kali memberati pundakku dengan amanah, bahkan hingga detik tulisan ini dimuat.

          DI gazebo tadi, beberapa orang telah melingkar. Aku yang datang terlambat mengambil posisi duduk dengan hati berkecamuk, takut-takut tak mau dengar kabar buruk. Mungkin sepele saat kau baca. Bahkan mungkin kau tertawa membaca tiap perkata tulisanku. Tapi buatku ini serius, serius seperti kabar pak j***** naik menjadi presiden, atau kabar BBM naik akibat ulahnya. Tak lama rupanya aku duduk, pembacaan surat keputusan dimulai. Dengan was-was aku berusaha sabar mendengar. Perasaan takut muncul, dan entah, aku merasa apa yang kurapkan takkan terjadi. Saat itu, benar saja! Yang kuharapkan benar-benar tidak terjadi!. Berita buruk itu masuk melalui lubang telingaku dan seperti dengan desibel yang tinggi hampir-hampir membuat kupingku sakit berdenging dan membuat kepala pusing sesaat. Yang kuharapkan divisi HPD (Humas, Publikasi dan Dokumentasi) atau aku mengira akan ditempatkan di divisi acara atau  expo. Tapi yang terjadi jauh dan amat jauh dari dugaanku. Funding! atau Fundrising lebih tepatnya, divisi yang menjadi beban baru bagi pundakku. Kabar buruk dipagi yang tadinya cerah berubah kelam seketika dalam pandanganku.

Bukan berarti ini hal pertama. Baru beberapa waktu lalu aku menerima amanah yang sama, hanya saja itulah yang membuat aku tak ingin lagi berada dalam lubang ini (lagi). Karena yang kurasa, tak pandai dan tak maksimal aku diamanah ini. Bukan pula hanya itu saja. Kau tahu? acara atau even yang sejak tadi kubicarakan adalah even apa? Yang karenanya membuatku perlu mencurahkan hati hingga berlelah menarikan jari untuk mengukir cerita ini. Tadi kubilang, evennya mungkin tak setenar even besar dari kampus ternama. Hanya segelintir orang yang yang tahu saja. Tapi  ini, menjadi satu-satunya even terbesar dalam kampus kami. Karena even ini menjadi sebuah cita-cita setiap dosen kami, menjadi sebuah impian yang dinanti dosen, mahasiswa hingga seluruh warga SEBI. Even yang menjadikan kampus kami lebih terkenal diluar sana. Even yang membuat kami bisa menebarkan manfaat dengan penyebar luasan ekonomi syariah. Even yang menjadi startegi untuk menarik pelajar lain agar bergabung dengan kami, bergabung dengan kampusnya para juara.

Jika sebelumnya aku tidak terlalu merasa tersiksa dengan amanah yang sama yaitu karena aku memiliki banyak sekali rekan dalam anggotana dan even yang diadakanpun belum mencakup luas yang begitu besar. Berbeda dengan even satu ini! Even ini akan menjarah setiap lapisan masyarakat diseluruh Indonesia. Mengekspansikan ekonomi syariah kepada setiap-setiap mereka yang masih awam terhadapnya. Pencapaian target demi targetpun tidak sembarangan. Salah satu yang menjadikan it’s BIG EVEN adalah estimasi biaya dari acara yang terancang. 300 JUTA! Bukan 3 ratus ribu atau 3 juta atau 30 puluh juta, seperti target yang hampir sama pada even yang kupegang sebelumnya. But it’s THREE HUNDRED MILLION RUPIAH’s!!

Bagaimana tidak menjadi berita buruk.  Meskipun aku mengetahui nominal itu sebelumny,a tapi aku tidak tahu bahwa akulah yang akan menjadi salah satu penanggung jawab atas pencapaian nominal itu. Terlebih lagi satu lagi yang membuat sedikit ragu. Hanya dua orang wanita yang ada dalam divisi itu, aku dan seorang kakak kelas yang telah menikah yang pikirku saat ini dia tidak akan setotal teman-teman lainnya karena harus mengurusi keluarganya.

Lengkap sudah kecemasanku berubah kenyataan. Amanah telah didapat, surat keputusan telah dibacakan, amanah telah bertengger dipundak. Jika ingin mundur mungkin bisa dan memang bisa. Tapi aku bukan seorang pengecut yang karena hal kecil (masih menganggap besar sih) mundur. Karena aku masih sadar, kalu kelak aku akan bertemu tantangan yang jauh lebih mengerikan lagi dibanding saat ini yang masih dalam lingkup kampus saja.

Tak kuat menahan kecewa, kesal, sedih, emosi. Air matapun menetes. Malu, sungguh. Untungnya terjadi ketika semua orang telah bubar dan sibuk dengan urusan masing-masing. Hanya saja tangisan ini terlihat jelas didepan para seniorku. Mereka mendatangi, menyalami dan menanyai keadaanku yang hal itu semakin membuat deras air mata ini jatuh. Lucu bukan? Aku saja tersenyum sendiri sambil mengingatnya. Meski sedikit dari mereka malah makin membuatku terbebani tapi ada salah satu ucapan yang mebuatku mengamini dan semoga benar hal itu terjadi. Seorang seniorku, salah satu tim pembentuk menyemangatiku dengan ucapan “Tenang aja hil, mungkin memang berat tapi semua akan membantu kok. Nanti imbas baiknya kamu akan mengenal orang-orang hebat. Kontak ponselmu akan banyak tertera nama-nama orang hebat dan kamu akan bisa punya link banyak dari yang lain”. Kata-kata yang membuatku tersenyum getir tetapi dalam hati mengamini dengan tulus ucapan ini. Satu lagi dia berkata “Hilyah bakal jadi Namira kedua”. Ya! Namira kedua, Namira pertama adalah orang yang memberiku semua ucapan tadi dan dia dulunya adalah orang yang sama pernah mengemban amanah seperti aku saat ini. Divisi yang sama pada even yang sama. Salah satu yang kutahu, kenapa aku amini untuk menjadi sepertinya adalah, dia wanita hebat yang pandai bernegosiasi dan mempunyai banyak link dengan orang-orang hebat, pandai berkata dan cerdas dalam bersikap. Banyak kelebihannya itulah yang semoga dengan aku mengemban amanah ini dapat menjadi sepertinya. Haruskah kubilang terimakasih? Untuk mereka yang menaruhku didivisi ini? Baiklah, terimakasih. Tapi aku berjanji akan memberikan lebih banyak terimakasih dengan pelukan hangat jika semua harapan tadi bisa benar-benar terjadi setelah aku sukses dalam mengemban amanah ini. Semoga semuanya benar-benar tercapai.

Rabb kuatkan pundak ini, mudahkan langkah ini, dan lancarkan setiap rencana kami, Amiin..

Satu lagi, belum kusebut acara apa even yang kubilang besar tadi. Namanya GES 9 (GEBYAR EKONOMI SYARIAH KE-9) ya, sudah tahun ke-9 acara ini akan diadakan. Dan GES tahun ini mempunyai konsep yang berbeda dari ges-ges sebelumnya. Seperti apa acaranya? Tunggulah di pertengahan tahun 2015 ini, khususnya buat kalian para mahasiswa dan adik-adik SMA yang jurusan ekonomi. Karena salah satunya akan ada Olimpiade Ekonomi Sains Nasional yang akan diadakan.

Do’akan aku, dan do’akan kami panitia GES 9 yang akan berjuang meniti kepahit, manis, asaman masa dalam menyukseskan GES 9 ini.

Terimakasih untuk kalian yang mau menyempatkan membaca.

Wait for the next posting and especially about GES 9. Sekian, Wassalam J








Depok, Januari 2015

@hnaf_25

Comments

POPULAR POST

Surat Cinta Untukmu Ukhti ...

HIJAB YANG SYAR’I?? RIBET?!

HANYA BERSAJAK

SEMBURAT ISI HATIKU, BU...

Dua Perempuan Dibangku Taman